Rabu, 28 Maret 2012

Resume Buku

Tugas Resume Buku
Nama         : Suharyanto
NIM         : 09410068
Sem / kelas     : VI / B
Makul         : Pengembangan Budaya dan Seni PAI

Judul : Spiritualitas dan Seni Islam
Penulis : Seyyed Hossein Nasr
Melihat sekilas aspek-aspek khusus seni Islam dari sudut pandang spiritualitas Islam dan berkaitan dengan prinsip-prinsip wahyu dalam islam. Sebuah eksposisi yang sistematis tentang filsafat islam mengenai seni maupun sejarah seni. Sebuah studi khusus mengenai sisi-sisi terpenting seni islam, yang meliputi sastra, music, dan seni plastis, di islam, bila filsafat seni dipahami dalam pengertian tradisionalnya sebagaimana yang dipergunakan oleh beberapa penulis. Seni Persia pu banyak diangkat dalam buku ini. Seni Persia melengkapi puncak kejayaan seni islam hamper disetiap bidang. Seni Persia disajikan dengan lengkap untuk memperlihatkan hubungan antara spiritualitas islam dan seni islam.
    Bila seseorang memandang dengan cermat berbagai manifestasi seni islam yang muncul dalam kurun waktu yang panjang, maka pertanyaan yang segera muncul adalah tentang sumber ajaran yang menyatukan seni ini. Apakah cikal bakal seni ini dan bagaimanakah sifat daasar dari ajaran yang pengaruhnya hampir tidak dapat disangkal lagi. Hubungan kausal antara wahyu islam dengan seni islam dibuktikan oleh hubungan organis antara seni dengan ibadah islam, antara kontemplasi tentang Tuhan seperti yang dianjurkan dalam qur`an dengan sifat kontemplatif dari seni.
    Islam terdiri dari hukum ilahi, jalan spiritual dan hakikat yang merupakan sumber baik hukum maupun jalan. Ia juga memiliki berbagai bentuk ilmu pengetahuan yang bersifat yuridis, teologis, filososif, dan esoteris yang berhubungan dengan dimensi-dimensi dasar ini. Ketika seseorang menganalisis islam dari perspektif ini, dia akan menyadari bahwa seni islam tidaklah memiliki sumbernya pada hukum ilahi yang menegaskan hubungan antara Tuhan dan manusia serta masyarakat pada tingkat perbuatan.
    Tak seorangpun yang dapat menemukan cikal bakal seni islam didalam ilmu-ilmu pengetahuan yuridis dan teologi, baik keduanya behubungan erat dengan hukum ilahi maupun masalah penegasan dan pembelaan prinsip-prinsip keimanan islam. Secara pribadi seorang teolog seperti al Ghazali telah menulis tentang keindahan. Beberapa yang ahli tentang hukum fiqh seperti Baha Al-Din al Amili bahkan membangun taman-taman yang indah, namun risalah-risalah tentang tentang teologi atau ilmu fiqh yang memberikan tentang masalah-masalah seni dan estetika islam tidaklah dikenal.
    Lebih lengkapnya lagi buku ini membahas mengenai: peran spiritual kaligrafi islam, prinsip kesatuan dan arsitektur suci islam, seni dalam kebudayaan persia yang termuat dalam seni dan kesucian. Dilanjutkan dengan sastra dalam islam yang banyak membahas tentang metafisika, logika, dan syair didunia timur, penerbangan burung-burung menuju Yang Maha Esa, jalal al-din Rumi: penyair dan sufi agung persia, rumi dan tradisi sufi. Dalam bidang musik, buku ini menjabarkan dengan panjang mengenai islam dan musik: pandangan-pandangan Ruzbahan baqli, pengaruh tasawuf terhadap musik persia tradisional. Sedang dalam seni plastis banyak membicarakan dunia imajinasi dan konsep ruang dalam miniatur persia, makna kehampaan dalam seni islam. Terakhir bahasan dalam buku ini adalah pesan spiritual seni islam yang menggambarkan tentang seni dan islam dengan lebih komphrehensif.

Selasa, 27 Maret 2012

Resensi Buku

Misbachol Munir
09410258

Pengarang                   : H. Abdul Jamil, dkk..
Judul                           : Islam dan Kebudayaan Jawa
Penerbit                       : Gama Media
Tahun cetak                 : 2000
Cetakan                       : Pertama
Jumlah halaman           : 312 + XII
ISBN                           : 979-9193-57-5

Islam dan Jawa merupakan dua entitas yang berbeda. Namun dalam kenyataannya keduanya dapat hidup berdampingan secara damai. Masuknya Islam ke tanah Jawa itu sendiri terbukti tidak menimbulkan ketegangan-ketegangan yang cukup berarti. Bahkan lebih dari itu, keduanya saling terbuka untuk berinteraksi dan interelasi pada tataran nilai dan budaya.
Ada banyak kemungkinan yang terjadi dalamsebuah mekanisme interelasi. Islam mempengaruhi kebudayaan Jawa ataukan Islam dan Jawa saling mempengaruhi. Maka sebenarnya yang terjadi Islamisasi kultur Jawa ataukah Jawanisasi kultur Islam.
1.      Budaya dan kepercayaan Jawa pra-islam
Masyarakat Jawa atau tepatnya suku bangsa Jawa secara antropologi budaya adalah orang-orang yang dalam hidup kesehariannya menggunakan bahasa jawa dengan berbagai dialeknya secara turun-temurun. Masyarakat Jawa adalah mereka yang bertempat tinggal di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta mereka yang berasal dari tempat tersebut. Nenek moyang suku Jawa tidak berbeda dari suku-suku di Indonesia yang menempati Semenanjung Malaka, Kalimantan, Sumatra, dan Sunda. Wilayah ini masih menjadi satu pada zaman es sebelum mencair.
Masyarakat Jawa merupakan suatu kesatuan masyarakat yang diikat oleh norma-norma hidup karena sejarah, tradisi, maupun agama. Hal ini dapat dilihat dari ciri masyarakat Jawa secara kekerabatan. Di Jawa, anak-anak sering dibesarkan oleh saudara-saudara orang tua mereka, bahkan oleh tetangga dan acap kali diangkat sebagai anak. Semboyan saiyeg saeka praya, atau gotong royong merupaka rangkaian hidup tolong-menolong sesama warga.
Ciri masyarakat jawa adalah berketuhanan. Suku bangsa jawa sejak zaman prasejarah tlah memiliki kepercayaan terhadap suatu kekuatan yang lebih besar dari manusia. Kepercayaan masyarakat Jawa pra hindu budha memiliki kepecayaan dan dapat diklasifikasikan menjadi kepercayaan animisme dan dinamisme.
Kepercayaan animism adalah kepercayaan tentang adanya roh atau jiwa pada benda-benda, tumbuhan, ataupun hewan. Dengan kepercayaan tersebut mereka beranggapan bahwa di samping semua yang ada, terdapat roh yang paling berkuasa dan lebih kuat dari manusia. Dan agar terhindar dari roh tersebut mereka menyembahnya dengan jalan mengadakan upacara disertai sesaji dan juga pemberian sesaji pada kuburan-kuburan tua dari tokoh terkenal atau tempat-tempat yang dianggap keramat dan mengandung kekuatan gaib atau angker dan wingit atau bahaya.
Masyarakat Jawa mempercayai bahwa apa yang mereka bangun adalah hasil adaptasi pergulatan dengan alam. Kekuatan alam disadari adalah penentu dari kehidupan seluruhnya. Sebagai sisa peninggalan masa lalu adalah melakukan tindakan keagamaan dengan menambah kekuatan batin agar dapat mempengaruhi kekuatan alam semesta. Hal ini dilakukan agar semua kekuatan alam yang mempengaruhi kehidupan diri dan keluarganya dapat dikalahkan. Usaha untuk menambah kekuatan batin itu sendiri dilakukan pula dengan cara menggunakan benda-benda bertuah atau berkekuatan gaib yang disebut jimat. Tindakan keagamaan tersebut adalah sisa kepercayaan zaman dinamisme.
2.      Sejarah masuknya islam ke Jawa
Masuknya Islam di Jawa sampai sekarang masih menimbulkan hasil telaah yang beragam. Ada yang mengatakan Islam masuk ke Jawa sebagaimana datang ke Sumatra., yang diyakini abad pertama hijriyah atau abad ke tujuh masehi. Menurut Hamka, adanya berita Cina yang mengisahkan kedatangan utusan raja Ta Cheh kepada ratu Sima. Adapun raja Ta Cheh, menurut Hamka adalah Raja Arab dan Khalifah saat itu adalah Muawiyah bin Abi Sofyan. Peristiwa tersebut terjadi pada saat Muawiyah melaksanakan pembangunan kembali armada Islam. Ruban Levy menyatakan bahwa pada 34 H, Muawiyah memiliki 5000 buah kapal armada laut. Oleh karena itu tidaklah mustahil pada tahun 674 M Muawiyah dapat mengirimkan dutanya ke Kalingga.
Dalam bentuk artefak kita dapatkan bukti-bukti tersebut dalam bentuk makam, masjid, ragam hias, dan tata kota. Bukti sejarah yang paling factual adalah ditemukannya batu nisan kubur Fatimah Binti Maemun di Leran Gresik yang berangka tahun 475 H (1082 M). Moqouette seperti dikutip sartono Kartodirjo, mengatakan bahwa batu nisan itu merupakan bukti konkret masuknya Islam di Jawa.
Teks Babad Tanah Jawi Versi Prosa menjelaskan bahwa islam diceritakan bermula dari Makdum Ibrahim Asmara yang bertamu ke negeri Campa. Tentang asalnya hanya diceritakan berasal dari tanah Sabrang yang datang dan mencobamembujuk raja Campa untuk masuk agama Islam. Raja Campa mengikuti ajakan Makdum Ibrahim karena rakyat Campa sudah banyak yang memeluk agama Islam.raja Campa mempunyai tiga anak, yaitu dua putri dan yang terahir putra yang mengantikan tahta ayahnya. Putri pertama menikah dengan prabu Brawijaya Majapahit, sedangkan putri kedua menikah dengan Makdum Ibrahim dan dikaruniai dua anak laki-laki bernama Raden Rahmat, dan Raden Santri. Dengan asumsi demikian, maka hubungan Majapahit dengan Cempa merupakan pertanda munculnya Islam dalam Kerajaan Majapahit.
Media yang digunakan dalam penyebaran pada masa awal adalah dengan memanfaatkan jalur perdagangan dan perkawinan. Di samping juga melalui pesantren, sebagaimana dirintis Sunan Ampel. Jalur perkawinan sebagaimana terjadi pada Darawati dari Cempa Muslim dengan Majapahit, atau sebagaimana Raden Rahmat dengan putrid Walatikta, yang menurut hikayat Hasanudin putrid itu bernama Nyai Gede Nila.
3.      Religiusitas Masyarakat Jawa
Pada orang Jawa, keadaannya sangat berbeda dengan orang Eropa jaman ini, karena teori dan praktek tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Tolak ukur pandangan dunia bagi orang Jawa adalah nilai pragmatisnya untuk mencapai suatu keadaan tertentu, yaitu kesenangan, ketentraman, dan keseimbangan hidup. Oleh karena itu dalam membicarakan pandangan dunia Jawa tidak hanya mengupas tentang agama dan mitos, melainkan juga tentang upacara menanam padi dan memanen, kehidupan keluarga dan seni tari-tarian, mistik, dan susunan desa.
Dalam pandangan dunia Jawa, terdapat empat lingkaran bermakna, yaitu pertama, lingkaran yang bersifat ekstrovert (sikap terhadap dunia luar, lahir maupun batin). Kedua, memuat penghayatan kekuasaan politik sebagai ungkapan alam numinous (ukhrowi, adikodrati). Ketiga, berpusat pada keakuan sebagai jalan ke persatuan dengan yang maha kodrati. Keempat, adalah penentuan semua lingkaran pengalaman mistik.
Tujuan resmi terakhir usaha-usaha mistik jawa adalah pencapaian kesatuan hamba dan Tuhan, tetapi tekanannya bukan hanya terletak pada pengalaman transendensi, melainkan juga pengalaman kesatuan Yang Ilahi mempunyai nilai pragmatis. Di dalamnya kekakuan individual membulatkan usahanya untuk mengontrol segala eksistensinya.
Pandangan dunia Jawa tentang kehidupan mengatakan bahwa masyarakat dan alam merupakan kehidupan orang Jawa sejak lahir. Masyarakat sebagai perwujudan kumpulan keluarga besar, terjadi mula-mula dari keluarga kecil (sendiri), keluarga tetangga, baik dekat maupun jauh, dan akhirnya seluruh desa. Lingkungan ini diatur dengan norma dan adat sehingga akhirnya nanti setiap anggotanya akan menemukan identitas dan keamanan jiwa. Nila anggota masyarakat terpisah dari aturan di atas, maka mereka akan merasa dikucilkan, sendirian, dan seolah-olah hidupnya tanpa makna.
Orang Jawa mengenal dua tanda yang tidak dapat salah, yaitu yang bersifat social dan psikologis. Di tingkat masyarakat, tanda yang paling jelas bahwa setiap pihak berada pada tempat kosmisnya yang tepat, yaitu keselarasan social. Etika Jawa bertolak dari pengandaian-pengandaian pandangan dunia yang berbeda. Bagi orang Jawa tidak ada bidang eksistensi manusiawi yang ditentukan semata-mata oleh hukum obyektif yang dapat diperhitungkan, melainkan orang Jawa akan menemukan diri dalam suatu dunia yang selalu dipengaruhi oleh kekuatan halus diluar perhitungan manusia. Norma-norma tersebut dapat masuk akal nila ada kemungkinan betul-betul mencapai hasil-hasil yang dikehendaki dalam dunia. Norma-norma tersebut dianggap mewajibkan secara mutlak walaupun hanya prima tacie. Jadi semua norma itu dapat membawa kewajiban actual, bukan hanya sikap hormat sesuai tata karma.
Pandangan dunia Jawa melihat pada latar belakang paham kekuasaan yang disimbolkan seorang raja (ratu). Raja adalah seorang figure yang dapat memusatkan suatu takaran kekuasaan, dan merupakan seorang yang sakti. Seorang raja bagaikan lautan, yang dapat menampung seluruh air dari manapun.      
Salah satu sifat dari masyarakat Jawa adalah bahwa mereka religious dan bertuhan. Sebelum agama-agama besar datang ke Indonesia, khususnya Jawa, mereka mempunyai kepercayaan adanya Tuhan yang melindungi dan mengayomi mereka. Keberagaman ini semakin berkualitas dengan masuknya agama-agama besar seperti Hindu, Budha, Islam, Katholik, dan Protestan ke Jawa. Dalam pelaksanaannya, terjadi sinkretisme dalam beragama. Adapun pengertiannya adalah suatu gerakan di bidang filsafat dan teologi untuk menghadirkan sikap kompromi pada hal-hal yang agak berbeda dan bertentangan.
Sinkretisme agama dengan unsur-unsur luar, walaupun tidak dikehendaki oleh sebagian ulama dan tokoh agama, telah merambah semua agama termasuk Islam. Oleh karena itu, meskipun semua orang Islam mengatakan bahwa dalam beragama mereka selalu berpedoman pada Al-quran dan as-sunnah, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa di setiap tempat dapat dijumpai amalan Islam yang khas dan berbeda karakter bila dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya. Begitu juga dengan Islam dalam masyarakat Jawa.
Dalam sinkretisme sendiri terdapat beberapa macam contoh dalam pelaksanaannya. Seperti :
a. Penggabungan antara dua agama/aliran atau lebih. Hal ini dimaksudkan untuk membentuk suatu aliran baru.
b.    Dalam masalah kepercayaan.
c.    Bidang ritual.
4.      Interelasi Nilai Jawa dan Islam.
Dalam proses penyebaran Islam di Jawa terdapat dua pendekatan tentang bagaimana cara yang ditempuh agar nilai-nilai Islam diserap menjadi bagian dari budaya Jawa. Pendekatan yang pertama adalah Islamisasi kultur Jawa. Melalui pendekatan ini budaya Jawa diupayakan agar tampak bercorak Islam, baik dari segi formal, maupun substansial. Adapun pendekatan yang kedua adalah Jawanisasi Islam. Hal ini diartikan sebagai upaya penginternalisasikan nilai-nilai Islam melalui cara penyusupan ke dalam budaya Jawa. Interelasi nilai-nilai Islam dalam budaya dan seni Jawa mencangkup dalam aspek kepercayaan dan ritual, bidang sastra, , pewayangan, arsitektur, pengaruh pada sistem politik, pendidikan, dan perspektif ekonomi.
Setiap agama dalam arti seluas-luasnya tentu memiliki aspek fundamental, yakni aspek kepercayaan atau keyakinan, terutama kepercayaan terhadap sesuatu yang sacral, yang suci,  dan yang gaib. Dalam hubungan antara budaya Jawa dengan Islam dalam aspek kepercayaan dan ritual menunjukkan secara jelas, baik tersirat maupun tersurat, secara langsung maupun tidak langsung, bahwa memang terjadi dalam kehidupan keberagamaan orang Jawa suatu  upaya untuk mengakomodasikan antara nilai-nilai Islam dengan budaya pra-Islam. Upaya tersebut dilakukan sejak Islam mulai disebarkan oleh para mubaligh yang tergabung dalam Walisongo dan dilanjutkan oleh pujangga keraton, serta dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari orang Jawa Islam. Upaya tersebut masih terus berproses hingga dewasa ini. Sebagian dari nilai-nilai Islam itu telah menjadi bagian dari budaya Jawa, kendatipun di sana-sini warisan nilai-nilai budaya pra-Islam masih tampak meski dalam wadah yang islami.
5Dinamika Nilai Islam Dan Tantangan Modernitas
Sewaktu Islam memasuki tanah Jawa, masyarakat telah memiliki kepercayaan animisme, dinamisme, Hindu, dan Budha. Dengan masuknya Islam, maka terjadi perpaduan unsur-unsur pra-Hindu, Hindu-Budha, dan Islam. Karkono Kamajaya memberikan batasan tentang kebudayaan Jawa, yaitu perwujudan budi manusia Jawa yang meliputi kemauan, cita-cita, ide, maupun semangat untuk mencapai kesejahteraan, keselamatan, dan kebahagiaan lahir batin.
Terdapat dua faktor yang mendorong terjadinya perpaduan nilai-nilai budaya Jawa dan Islam tersebut, yaitu :
1.      Sifat dari budaya pada hakikatnya terbuka untuk menerima unsur budaya lain. Lapangan budaya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, maka tidak ada budaya yang terlepas dari unsur budaya lain.
2.       Sikap toleran Walisongo dalam menyampaikan agama Islam di tengah masyarakat Jawa yang telah memiliki keyakinan pra Islam yang sinkretis.
Nilai budaya pra Islam bercorak sinkretis tidak mudah digantikan oleh budaya Islam yang monotheistis. Jadi, yang tercipta kemudian adalah perpaduan antara nilai budaya Jawa dengan nilai budaya Islam.
Nilai budaya jawa Islam terdiri dari gagasan atau konsep dari berbagai hal, pada umumnya dijadikan pedoman dalam kehidupan penganutnya. Agar dijadikan sebagai pedoman, maka nilai tersebut bersifat abstrak dan diwujudkan dalam norma-norma untuk mengatur tindakan individu di berbagai lapangan.
Dalam proses perubahan kebudayaan, ada unsur-unsur yang mudah berubah dan yang sukar berubah. Linton membagi kebudayaan menjadi inti kebudayaan dan perwujudan kebudayaan. Bagian inti terdiri dari sistem nilai budaya, keyakinan keagamaan yang dianggap keramat, beberapa adat yang telah mapan, dan yang telah mapan di tengah masyarakat. Sementara wujud kebudayaan yang merupakan bagian luar atau fisik dari kebudayaan, seperti alat atau benda-benda hasil seni budaya, nudah untuk berubah.
6.      Aqidah Islam Dan Ritual Budaya Dalam Umat Islam Jawa.
Umat Islam dalam memandang fenomena ajaran Islam terpolakan menjadi dua, yakni pola pemahaman tradisional tekstual dan rasional konteksual. Pola yang pertama hanya melihat bunyi teksnya sedangkan yang kedua, selain memperhatikan aspek internal, juga menganalisis aspek eksternalnya. Dengan dua pola tersebut, sebenarnya kedua-duanya tidak terlepas dari teks dan rasio sehingga dengan demikian diharapkan kedua pola pendekatan tidak dipertentangkan secara dikotomik, tetapi dipandang sebagai variasi dan dinamika pemahaman Islam.
Dalam konteks keindonesiaan ada dua organisasi yang pada akhirnya mencerminkan dua aliran yang berseberangan, yakni NU dan Muhammadiyah. NU dengan tradisionalisnya mengkontekstualkan ajaran agama menyesuaikan dengan keadaan kultur budaya yang ada, sedangkan Muhammadiyah sebagai kaum modernis yang bersemboyan kepada Al-quran dan as-sunnah dan berusaha untuk mengembalikan tradisi islam indonesia yang telah mapan kepada Quran dan Sunnah, dan mengesampingkan kultur budaya yang telah melekat pada masyarakat.
Sebenarnya dapat disimpulkan bahwa kedua aliran tersebut dalam ajaran fundamentalnya sama, tetapi berbeda dalam cabang (khilafiyah furuiyyah). Masalah akidah dan ibadah tidak ada masalah, hanya beberapa cabang ibadah yang sedikit ada perbedaan yang sebenarnya tidak menjadi masalah.                                                                             

TUGAS RESENSI BUKU


REVIEW BUKU
Oleh : Laila Sangadah
 (09410201) (PAI B)
PARADIGMA KEBUDAYAAN ISLAM
A.     IDENTITAS BUKU
Judul Buku                  : Paradigma Kebudayaan Islam (Studi Kritis dan Refleksi Historis)
Pengarang                   : Faisal Ismail
Tahun Terbit                : 1988
Kota/ Penerbit             : Yogyakarta: Titian Ilahi Press
Jumlah Halaman          : 202 halaman
B.     SINOPSIS
BAG.1 (POTRET KEBUDAYAAN ISLAM DI INDONESIA)
Menurut W.S Rendra, keberadaan umat Islam di Indonesia adalah sebagai berikut:
1.      Tidak fungsional dalam artian sosok dan peran serta umat Islam dalam masyarakat sangat kecil.
2.      Mengalami kemunduran dalam bidang budaya dan science
3.      Cenderung tertutup terhadap kritik dan saran dari luar

Dalam bagian ini juga dijelaskan bahwa Fanatisme madzhab menjadi salah satu biang krisis bangsa. Fanatisme tersebut merupakan kelanjutan dari politik devide et impera pada rezim penjajah. Tertutupnya suatu madzhab terhadap madzhab lain menjadi pemicu pertikaian di antara mereka. Disamping masih terkungkung dalam pemahaman fanatis, umat Islam juga kurang antusias terhadap persoalan-persoalan kultural. Maka dapat dikatakan perhatian umat Islam terhadap kebudayaan di Indonesia “nol besar”. Padahal Islam adalah nilai esensi, isi, dan pemahaman yang harus memancar dan menjiwai kreativitas dan produk budaya dan kebudayaan.
Aspek lain penyebab krisis budaya Islam adalah pandangan bahwa Islam hanya sebagai “Ibadat” saja dalam pengertian sempit. Padahal lingkup Islam sangat luas meliputi seluruh segi kehidupan baik dunia, akhirat, sosiokultural, seni, ekonomi, politik, dsb.                                   
Menghadapi berbagai persoalan di atas maka harus diadakan strategi kebudayaan dan pembaharuan pendidikan Islam. Ari Baswedan mengatakan dalam simposium musium pendidikan Islam (Oktober 1980) bahwa pengembangan musium budaya Islam harus diiringi dan ditunjang oleh kebudayaan. Pemikiran inilah yang melatarbelakangi lahirnya “ strategi kebudayaan dalam menyongsong pembaharuan pendidikan Islam”.
Mukti Ali menyebutkan 3 kekurangan universitas Islam, yakni : kekurangan dalam penguasaan bahasa, metode sistem setiap disiplin ilmu, dan mentalitas keilmuan.
Menyikapi hal ini, Pakar Perbandingan Agama menyatakan bahwa ada 6 hal pokok yang harus diajarkan oleh Perguruan Tinggi Islam yakni : prinsip perubahan masyarakat, menumbuhkan berpikir kritis dan jiwa optimisme, mengajarkan methode of approach (cara untuk memecahkan masalah), menanamkan disiplin intelektual, serta menumbuhkan budaya gemar membaca.
Gagasan Gazalba yang selalu ditorehkan dalam setiap karyanya adalah “agama dan kebudayaan adalah setingkat”.  Ia juga berpendapat bahwa “ijtihad merupakan hukum sekularisasi Islam”  akan tetapi gagasan Gazalba ini ditolak sebagian masyarakat sebab dipandang bertentangan dengan nilai-nilai Islam
 Melihat hal ini, maka perlu diadakan pembaharuan dalam studi keilmuan Islam di universitas-universitas Islam sebab kualitas universitas Islam sangat menentukan mutu pendidikan masa depan.
BAG. 2 KEBERIMANAN DAN KEBERSENIMANAN
Dalam forum diskusi fakultas Adab dan Kebudayaan UIN Sunan Kalijaga, diperoleh kesepakatan bahwa “ kesenian hendaknya harus dikaitkan dengan agama agar tidak terlalu liberal”. Umat Islam di Indonesia miskin akan kesenian. Hal ini disebabkan faktor-faktor diantara : kesenian umat Islam berjalan secara tradisional, kurang kreatif, inovatif, variatif, serta keinggalan dalam bobot kualitas. Kesenian memiliki subordinasi positif, dan negatif terhadap agama. Salah satu subordinasi negatif adalah ketegangan antara nilai-nilai agama termasuk hukum-hukumnya yang keras dengan nilai-nilai kesenian yang longgar. Sementara subordinasi positif nya adalah dasar kuat untuk memperkembangkan kesenian karena kesenian selalu mengandung nilai-nilai.
Seorang seniman mempunyai cara tersendiri untuk mengungkapkan imajinasinya atau dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Seorang penyair misalnya menunjukkan suatu pemberontakan akan belenggu jiwa dengan berimajinasi seolah-olah melawan kehendak Tuhan. Atau seorang penyair melakukan cara penghayatan intens sehingga terjadi “ manunggaling kawula Gusti” (bersatunya hamba dan Tuhan dalam realitas tunggal. Dalam hal ini penyair terkesan liberal, menuntut “kebebasan berimajinasi dalam mencipta”
Dalam mengungkapkan imajinasi, seorang seniman terkadang mempersonifikasikan sosok-sosok yang diagungkan dalam Islam. Misal, imajinasi Nabi Muhammad SAW dalam cerita “Langit Makin Mendung (dalam novel Satanic Verses). Tak jarang pula seorang penyair mengatakan bawa “penafsiran tentang Tuhan tidak boleh dimonopoli”. Dan disambung dengan pernyataan “ saya jangan ditanya, apakah saya ber-Tuhan atau tidak, itu urusan pribadi saya.” Ungkapan penyair maksudnya adalah memberikan kejelasan bahwa Tuhan yang dimaksud adalah Tuhan yang terdapat dalam “mind”  atau pikirannya bukan bukan Tuhan yang hidup, bukan Tuhan yang menjadi sasaran kita dalam beribadat.
Menghadapi kasus seperti di atas seseorang selain mengasah daya kreativitas intuisi dan imajinasinya dalam berkarya, hal yang paling penting adalah mendalami penghayatan dan pengamalan agama secara intens, sehingga terdapat keseimbangan antara emosi dan akal, dalam artian terjadi keselarasan antara kebersenimanan dan keberimanan.
BAG.  3 ( ISLAM, MODERNITAS, DAN MORALITAS)
Dunia mode terus mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Mulai dari mode jadul, pertengahan, hingga modern. Sebagai contoh mode pakaian, yang dulunya hanya berorientasi untuk menutup aurat, kini menjadi media promosi aurat. Dari yang dulunya berlengan panjang, memendek dan terus memendek hingga tak berlengan. Budaya westernisasi ini semakin mewabah terutama di kalangan remaja. Terlebih lagi dengan adanya kontes “ratu kecantikan” yang menampilkan keseksian para wanita dengan kostumnya yang vulgar. Sebagian orang berpendapat bahwa hal tersebut bernilai estetik tinggi. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah mengapa justru aurat yang dipertontonkan ? bukan soft skill atau kecerdasan intelektual saja?
Kasus di atas adalah penyebab degradasi moral yang sering disebut sebagai penyakit mental epidemik yang menjangkiti para konsumennya. Islam memberikan kelonggaran bahkan kebebasan dalam hal cipta-mencipta mode. Akan tetapi mode dapat dicipta sesuai dengan keperluan, kebutuhan, situasi dan kondisi, namun harus dalam batas-batas moral Islam.
Agama Islam  juga berfungsi sebagai alternatif terhadap berbagai permasalahan sosial budaya. Sebagai contoh, di Amerika Serikat terdapat sekelompok anak jalanan yang menamakan diri mereka “The Flower Children”  yang menginginkan kedamaian dan perlindungan di dunia. Di samping itu juga terdapat seorang wisudawan dengan nilai cumlaude merobek ijazahnya sebab merasa bahwa ilmu yang selama ini ia dapatkan tidak mampu menjawab persoalan-persoalan yang ia hadapi. Ia merasa di tengah majunya iptek di negaranya belum cukup untuk membebaskan negaranya dari perang dan mengisi jiwanya yang kering akan pengetahuan spiritual.
Permissive society merupakan produk sekularisme, suatu faham yang mengabaikan, melepaskan dan menanggalkan norma-norma agama, nilai moral dan agama. Mereka tidak mengakui “absolute standard of behaviour”  sehingga terjadilah moral chaos  (kekacauan moral) dan lebih jauh lagi membawa mereka kepada keadaan “lawless society” (masyarakat tanpa hukum). Sebagai contoh, di AS, pada tahun 1969 diperkirakan 400.000 kelahiran tidak syah sebab berasal dari seks bebas, hubungan gelap, dsb. Dalam hal ini agama berfungsi ntuk mengatur, membimbing hidup dan kehidupan manusia. Islam telah membuat garis demarkasi antara “ yang ma’ruf dan yang munkar, yang halal dan haram, dsb”. Maka jelaslah bahwa permissive society  sangat bertentangan dengan Islam.
Perbedaan mendasar antara moralitas Islam  dan moralitas baru  adalah: Moralitas Islam merupakan standar dan ukuran baik dan buruk yang telah ditetapkan Islam sejak kurun Muhammad SAW yang berlaku hingga sekarang bahkan sepanjang masa. Misal, perzinaan dilarang, berarti untuk selamanya dilarang. Moralitas baru merupakan sistem yang berkembang dalam budaya  masyarakat Barat dan tidak didasarkan pada kepercayaan tentang Tuhan dan akhirat. Misal, budaya permissivme, beberapa citra kehidupan seksual seperti lesbianisme, incest, masochisme, dsb.
Menurut Kuntcoroningrat, modernisasi  merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan suatu bangsa atau negara untuk “menyesuaikan diri” dengan konstelasi dunia pada suatu kurun tertentu di mana bangsa tersebut hidup. Sedangkan westernisasi adalah meniru dan mengadaptasi gaya hidup Barat, meniru-niru dan mengambil alih cara hidup Barat. Keduanya sering mengalami kekacauan makna sehingga diperlukan pemahaman khusus terhadap keduanya. Penerapan modernisasi yang salah dilakukan oleh negara Turki dan Iran. Pada tahun 1924, Mustafa Kemal Pasha, perdana menteri Turki mengadakan pembangunan dengan menerapkan konsep-konsep Barat. Ia mengganti hukum Islam dengan sistem hukum Swiss. Hakim-hakim dilucuti dan dilebur dalam peradilan sekuler. Sementara Iran pada rezim M. Reza Pahlevi mengadakan praktik modernisasi besar-besaran yakni menciptakan perbaikan-perbaikan sosial ekonomi secara selektif.
Manusia modern merupakan manusia yang bercirikan sebagai berikut :
a.       Siap sedia mengambil pelajaran baru dan terbuka untuk pembaharuan, invasi, dan perubahan.
b.      Mampu menganalisis permasalahan sampai ke akarnya.
c.       Bersikap demokratis.
d.       Berorientasi ke masa sekarang dan masa depan.
e.       Terencana dan terorganisasi
f.       Memiliki optimisme tinggi bahwa dunia ini dapat diperhitungkan, dan orang-orang di sekitarnya dapat diandalkan
g.      Respek terhadap martabat orang lain
h.      Percaya pada iptek sebagai secara teoritis dan praktis
i.        Percaya pada keadilan terbagi (distributive justice) dalam artian bahwa pahala sesuai dengan kerja keras.
BAG. 4 ISLAM DAN KEBUDAYAAN GLOBAL
Pada masa daulah Umayah hingga Abbasiyah Islam mengalami masa kejayaan. Hal tersebut dibuktikan dengan beberapa peninggalan baik yang berupa fisik, (misal masjid Cordova, Masjid Agung Al-Hamra, perpustakaan Baitul Hikmah dsb) maupun peninggalan dalam bidang keilmuan, seperti Ibnu Sina (kedokteran), Khawaritsmi (matematika), Al-Hakam (bidang ilmu pengetauan dan kesusasteraan), Ibnu Rusyd, dsb.
Pada abad 8-13 Masehi, Islam berada di atas panggung kejayaan dan kebudayaan dunia. Menurut catatan Hitti, seorang sarjana Libanon, Umat Islam telah berjasa dalam menyeberangkan “warisan kebudayaan klasik Yunani kepada Eropa (munculnya  Aristoteles, Plato, Galenus, dll)” serta mengantarkan bangsa Eropa menyambut abad Renaissance. Salah satu sumbangan terbesar umat Islam adalah  menterjemahkan karya-karya Yunani dengan bahasa Arab, dan sebaliknya bangsa Eropa menterjemahkan karya-karya Islam ke bahasa Yunani.
Akan tetapi, dewasa ini umat Islam menalami suatu krisis yang berkepanjangan sebagaimana diungkapkan Mukti Ali :”Krisis dunia dan ancaman yang mengancam umat manusia adalah krisis rohani dan kekosongan moral”. Apabila di zaman 8-13 umat Islam berada di puncak keemasan, maka di era modern ini umat Islam berada di abad “kecemasan”. Siklus industrialisme, hedonisme, dan materialisme memberikan gambaran bahwa manusia saat ini kembali ke masa jahiliyah. Budaya-budaya yang ada saat ini tidak mencerminkan kekhasan Islam namun justru bernilai pola masyarakat Barat. Suatu alternatif peradaban telah diramalkan oleh F.C.S  Northop bahwa peradaban yang akan datang adalah “persenyawaan yang selaras dari estetik teoritik. (integral as harmonius of the aesthetic-theoritic) yakni peradaban yang bertumpu pada suatu sistem super keagamaan ideal.
Dinamika kebudayaan Islam akan terus mewarnai dunia. Organisasi-organisasi Islam Internasional seperti World Muslim Congres (Karachi),Rabithah All-Islamy (World Muslim League di Mekah) A’la al ‘Alamy Lil-Masaajid (Dewan Masjid sedunia) memperluas penyebaran  ajaran Islam melalui brosur-brosur taraf Internasional. Sementara itu, di London juga diadakan Festival Dunia Islam yang berisi pameran hasil-hasil pemikiran keagamaan, kesenia, literatur, arsitektur, musik, dan karya-karya umat Islam yang lain.
Menghadapi realita ini, Charles J. Adams seorang guru besar dari McGill University mengatakan bahwa “Tercapainya kemerdekaan politik dan berkembangnya kesadaran nasional di kalangan umat Islam disertai satu renaissance kebudayaan.” Toynbee mengatakan pula bahwa Islam harus tampil untuk menolong peradaban dunia dan menolong seluruh dunisa kemanusiaan karena misi utama Islam sebagaimana diungkapkan Al-Qur’an adalah memberi rahmat bagi seluruh ummat manusia.